Karya Tulis Ilmiah (KTI) PGSD

 

PENGGUNAAN MEDIA KARTU MERAH PUTIH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

  SISWA TENTANG OPERASI HITUNG PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS 5 MI SINDANGGALIH

 

 

Oleh                            : Ali Mustopa


ABSTRAK

Penelitian ini berawal dari keinginan penulis untuk menggunakan media kartu merah putih dalam pembelajaran Matematika materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh anggapan bahwa matematika masih menjadi pelajaran yang kurang disukai oleh siswa. Mereka menganggap matematika adalah pelajaran yang sulit dan rumit. Salah satu materi pelajaran matematika yang sulit menurut siswa adalah penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah penggunaan media  kartu merah putih dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat di kelas V MI Sindanggalih ? Apakah dalam hasil belajar siswa ada perbedaan yang signifikan dalam materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat sebelum dan sesudah digunakan media kartu merah putih ? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V MI Sindanggalih terhadap materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat menggunakan media kartu merah putih.

Berdasarkan hasil penelitian, penulis mendapatkan hasil evaluasi belajar pada pra siklus 45,45 %, pada siklus 1 ada peningkatan yaitu 54,55 %, dan pada siklus 2 terdapat peningkatan yang signifikan yaitu 90,91 %. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan media kartu merah putih sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

Kata kunci : media kartu merah putih, peningkatan pemahaman siswa, hasil belajar siswa meningkat.

 

I.     Pendahuluan

 

A.    Latar Belakang Masalah

1.      Identifikasi Masalah

Kegiatan belajar mengajar merupakan serangkaian kegiatan guru dan siswa dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Kemampuan guru dalam menciptakan kondisi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) sangat diperlukan dalam menentukan keberhasilan pembelajaran.

Proses belajar merupakan proses perubahan tingkah laku pada diri seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang belum bisa menjadi bisa, dan dari yang belum sadar menjadi sadar. Pembentukan tingkah laku tersebut terjadi dalam bentuk pengetahuan, keterampilan serta sikap positif seseorang.

Untuk mencapai tujuan tersebut, guru hendaknya mempersiapkan banyak hal diantaranya materi pembelajaran, metode, model, alat atau bahan yang sesuai serta hal-hal lain yang diperlukan. Dari salah satu yang harus dipersiapkan oleh guru adalah metode dan model pembelajaran yang merupakan komponen penting dalam kegiatan pembelajaran.

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar (Toeti : 1995).

Matematika merupakan mata pelajaran yang di ajarkan di semua tingkatan sekolah, dari mulai tingkat dasar sampai tingkat menengah. Namun sampai saat ini matematika masih menjadi pelajaran yang kurang disukai oleh anak didik. Karena mereka menganggap matematika adalah pelajaran yang sulit dan rumit, sehingga minat mereka sangat kurang. Salah satu materi pelajaran matematika yang sulit menurut anak didik adalah materi bilangan bulat. Bilangan bulat adalah bilangan yang terdiri dari seluruh bilangan baik negatif, nol dan positif (http://tipssoftwarenew.blogspot.com/2012/06/pengertian-dan-macam-macam-bilangan). Dalam operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat anak didik masih banyak yang mengalami kebingungan, karena mereka kurang memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk memaparkan masalah tersebut yang dituangkan dalam sebuah karya tulis yang berjudul “Penggunaan Media Kartu Merah Putih Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Tentang Operasi Hitung Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat di Kelas V MI Sindanggalih”.

2.      Analisis Masalah

Berdasarkan hasil identifikasi masalah di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa kurang memahami materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat diantaranya adalah sebagai berikut :

a.       Kurangnya minat anak didik terhadap mata pelajaran Matematika.

b.      Rendahnya minat anak didik terhadap pelajaran matematika.

c.       Guru kurang memberikan motivasi tentang pentingnya belajar Matematika.

d.      Siswa kurang memahami konsep bilangan bulat.

3.      Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah

Apabila kita melihat kondisi di atas, kita perlu mengadakan perbaikan dalam system pembelajaran, baik itu dari segi metode, model, media dan alat peraga yang digunakan, supaya siswa bisa lebih memahami pelajaran, sehingga prestasi belajar mereka pun dapat meningkat.

Salah satu alternatifnya adalah dengan cara kita menggunakan alat peraga kartu merah putih, supaya pembelajaran lebih menyenangkan dan siswa pun aktif mengikuti pembelajaran, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menarik minat mereka.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut : “Apakah penggunaan media  kartu merah putih dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat di kelas V MI Sindanggalih ?

C.    Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Tujuan dari perbaikan pembelajaran ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V MI Sindanggalih terhadap materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan menggunakan media kartu merah putih.

D.    Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Penelitian tindakan kelas ini tentunya diharapkan dapat bermanfaat baik bagi guru, siswa maupun sekolah.

1.      Bagi guru

a.       Dapat memberikan kontribusi yang sangat bermanfaat untuk mengatasi masalah-masalah pembelajaran terutama dalam pembelajaran matematika.

b.      Memberikan motivasi kepada guru agar lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

c.       Memberikan wawasan kepada orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan, tentang pentingnya inovasi dalam pembelajaran.

2.      Bagi siswa

a.       Meningkatkan pemahaman siswa tentang materi matematika khususnya materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

b.      Meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna.

c.       Siswa jadi lebih memahami dan memiliki wawasan dan pengalaman tentang konsep matematika.

3.      Bagi sekolah

Manfaat dari penelitian ini secara kelembagaan adalah mengembangkan fungsi kelembagaan Madrasah Ibtidaiyah Sindanggalih sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, serta sebagai lembaga penelitian dan pengajaran Sekolah Dasar.

II.  Kajian Pustaka

A.    Definisi Operasional

Kita tahu bahwa hasil belajar adalah perubahan prilaku menjadi lebih baik. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), dikemukakan bahwa “Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemampuan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Melalui pelajaran matematika siswa dilatih untuk berfikir kritis, tekun dan kreatif. Karena matematika merupakan pelajaran yang penyelesainnya membutuhkan ketelitian dan ketekunan.  

B.     Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian dalam bentuk hipotesis tindakan, yaitu : Apabila guru dalam materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dapat merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi secara efektif dengan menggunakan media kartu merah putih maka hasil belajar siswa di kelas V MI Sindanggalih Rejasari Kecamatan Langensari Kota Banjar akan meningkat.

C.    Pembelajaran Matematika

Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani, “mathein” atau “manthenein” yang artinya mempelajari, namun diduga kata itu ada hubungannya dengan kata Sansekerta “medha” atau “widya” yang artinya kepandaian, ketahuan atau inteligensi (Andi Hakim Nasution, 1980 hal. 12).

Pembelajaran matematika di SD merupakan salah satu pelajaran yang sangat menarik untuk dikaji, karena mengingat anak usia SD masih dalam tahap berfikir konkret. Menurut Gatot Muhsetyo (Pembelajaran Matematika SD: 2010), pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari.

Zoltan P. Dienes seorang guru matematika (Pendidikan di Hongaria, Inggris dan Prancis) mengembangkan sistem pengajaran matematika dan berusaha agar pengajaran matematika menjadi lebih menarik serta lebih mudah untuk dipelajari. Dasar teorinya didasarkan atas teori Piaget. Dienes memandang matematika sebagai pelajaran struktur, klasifikasi struktur, relasi-relasi dalam struktur, dan mengklasifikasikan relasi-relasi antara struktur.

D.    Konsep Bilangan Bulat

Bilangan bulat adalah bilangan yang terdiri dari bilangan positif, negatif dan bilangan nol (netral). Penggunaan bilangan bulat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika kita menyatakan 250 meter dibawah permukaan laut, tentunya kita tidak mungkin menggunakan bilangan asli, oleh karena itu bilangan bulat sangat penting sekali untuk dipelajari di sekolah. Sebagai implementasi dari konsep di atas, maka penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat merupakan dua operasi hitung yang sering digunakan dalam penghitungan bilangan bulat.

Beberapa operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat yang sering dipelajari diantaranya yaitu :

a.       7 + 10 = 17

b.      7 – 10 = -3

c.       7 – (-10) = 17

d.      -7 – 10 = -17

e.       -7 – (-10) = 3

f.        7 + (-10) = -3

Dalam beberapa kasus, operasi hitung tersebut sering membingungkan siswa, bahkan siswa terkadang jenuh dan bosan, karena kebanyakan guru hanya menerangkan tanpa menggunakan media/ alat peraga, oleh karena itu melalui media/ alat peraga kartu merah putih diharapkan siswa menjadi lebih senang dan tidak merasa bosan, sehingga pemahaman mereka pun bisa lebih meningkat.

 

E.     Penggunaan Media Kartu Merah Putih

Media pembelajaran merupakan alat bantu yang dapat membantu guru untuk mengajar, karena melalui media guru akan lebih mudah untuk menyampaikan pembelajaran. Selain itu media akan bisa lebih memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran, karena dengan alat media/ peraga siswa lebih terlibat aktif dalam pembelajaran. Media merupakan kata jamak dari kata “medium” yang berasal dari bahasa latin yang berarti perantara (Marisa, Komputer dan Media pembelajaran : 2011). Sedangkan media pembelajaran adalah suatu alat atau bahan yang mengandung informasi atau pesan pembelajaran (Marisa, Komputer dan Media Pembelajaran : 2011).

Media kartu merah putih merupakan salah satu media yang dapat kita gunakan dalam pembelajaran matematika, terutama dalam materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Media ini dapat memberikan pemahaman tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, dalam hal ini kartu berwarna merah sebagai bilangan bulat positif, sedangkan kartu putih sebagai bilangan bulat negatif.

 

III.   Pelaksanaan Penelitian Perbaikan Pembelajaran

  1. Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian

1.      Subjek Penelitian

Yang menjadi subjek penelitian perbaikan pembelajaran ini adalah siswa kelas V MI Sindanggalih Desa Rejasari Kecamatan Langensari Kota Banjar yang berjumlah 11 orang, yaitu 7 laki-laki dan 4 perempuan. Yang tentunya kesebelas siswa tersebut memiliki sifat dan karakter serta tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Ketiga hal tersebut menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap daya serap dan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan. Ada yang cepat dalam memahami materi, ada pula yang kurang cepat memahami materi pelajaran yang disampaikan, dan tentunya hal ini sangat berpengaruh terhadap hasil belajar mereka. Bagi mereka yang cepat memahami materi yang disampaikan, maka hasil belajar mereka akan baik, tapi bagi mereka yang kurang memahamai materi yang disampaikan, hasil belajar mereka juga kurang baik dan memuaskan.

2.      Tempat Penelitian

Penelitian perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan di sekolah tempat peneliti mengajar, yakni di dalam ruang kelas V MI Sindanggalih Desa Rejasari Kecamatan Langensari Kota Banjar. Walaupun dengan fasilitas yang bisa dikatakan masih kurang memadai dan mendukung dalam kegiatan pembelajaran, dikarenakan ruangannya kurang luas atau tidak sebanding dengan jumlah siswa yang banyaknya 11 anak. Namun hal ini tidak menjadi hambatan bagi peneliti untuk melakukan penelitian perbaikan pembelajaran ini.

3.      Waktu Penelitian

Penelitian perbaikan pembelajaran di MI Sindanggalih Desa Rejasari Kecamatan Langensari Kota Banjar ini dilaksanakan dalam 2 siklus, untuk lebih jelasnya jadwal tertera dalam tabel dibawah ini :

 

Tabel 3.1

Jadwal Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran

 

No

Siklus

Hari/Tanggal

Waktu

1

1 (satu)

Selasa, 2210 – 2013

07.35 – 08.10

2

2 (dua)

Selasa, 29 – 10 - 2013

07.35 – 08.10

 

  1. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran

Penelitian perbaikan pembelajaran ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri atas empat rangkaian kegiatan yaitu : Perencanaan, Tindakan, Observasi, dan Refleksi (Suhardjono, 2009).

Uraian perbaikan pembelajaran secara terperinci adalah sebagai berikut :

1.    Siklus 1

a.       Tahap Perencanaan

Dalam tahap perencanaan siklus 1 disusun rencana perbaikan pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat pada pembelajaran Matematika.

Langkah-langkah perencanaan meliputi kegiatan sebagai berikut :

1.    Mempersiapkan rencana perbaikan pembelajaran (RPP).

2.    Menyusun lembar kerja siswa (LKS)

3.    Mempersiapkan alat peraga/ media kartu merah putih sebagai media yang sesuai dengan materi.

4.    Menyiapkan lembar observasi.

5.    Menyusun dan mempersiapkan lembar evaluasi.

b.      Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus 1 dilaksanakan pada hari selasa tanggal 22 Oktober 2013 dengan kompetensi dasar operasi hitung bilangan bulat termasuk penggunaan sifat-sifatnya, pembulatan dan penaksiran, adapun tahap-tahap kegiatannya  adalah sebagai berikut :

1.    Membuka pelajaran dengan salam dan berdo’a

2.    Guru melakukan absensi, apersepsi dan motivasi kepada siswa.

3.    Mengajukan pertanyaan stimulan  sesuai dengan kondisi siswa

4.    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

5.    Guru bersama siswa menyiapkan media kartu merah putih.

6.    Guru mendemonstrasikan konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan menggunakan kartu merah putih.

7.    Siswa dibantu guru, mempraktikkan penggunaan media kartu merah putih untuk menyelasaikan soal latihan.

8.    Mengadakan evaluasi terhadap hasil belajar siswa.

c.         Tahap Observasi

Observasi atau pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran, hal yang diamati adalah proses dan hasil pembelajaran, dalam oebservasi ini peneliti dibantu oleh kepala sekolah dan supervisor 2 yang mengamati aktfitas guru dan aktifitas siswa selama proses pembelajaran. Pengamatan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat dan telah didiskusikan dengan teman supervisor 2 dan alat penilaian kemampuan guru (APKG) yang telah disediakan. Hasil observasi perbaikan pembelajaran siklus 1 terlampir.

d.        Tahap Refleksi

Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara meyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya (Suhardjono, 2009).

Refleksi dalam penelitian tindakan kelas mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan : perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi (Hopkins, 1993).

Fungsi dari tahap refleksi adalah untuk memberikan deskripsi (gambaran) tentang hasil tindakan dalam pembelajaran yang telah dilaksanakan. Selain itu, refleksi juga bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas.

Kesimpulan hasil refleksi dapat dijadikan dasar bagi penyusunan rencana tindakan dan pelaksanaan kegiatan penelitian selanjutnya.

 

2.      Siklus 2

a.       Tahap Perencanaan

Dalam tahap perencanaan siklus 2 disusun rencana perbaikan pembelajaran yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang belum tercapai dalam siklus 1 yaitu untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat pada pembelajaran Matematika.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap perencanaan meliputi kegiatan sebagai berikut :

1.    Mempersiapkan rencana perbaikan pembelajaran (RPP).

2.    Menyusun lembar kerja siswa (LKS)

3.    Mempersiapkan alat peraga/ media kartu merah putih sebagai  media yang sesuai dengan materi.

4.    Menyiapkan lembar observasi.

5.    Menyusun dan mempersiapkan lembar evaluasi.

b.      Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus 2 dilaksanakan pada hari selasa tanggal 29 Oktober 2013 dengan kompetensi dasar operasi hitung bilangan bulat termasuk penggunaan sifat-sifatnya, pembulatan dan penaksiran, adapun tahap-tahap kegiatannya  adalah sebagai berikut :

1.    Membuka pelajaran dengan salam dan berdo’a

2.    Mengajukan pertanyaan stimulan  sesuai dengan kondisi siswa

3.    Guru memotivasi siswa dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan sikap yang harus tertanam pada diri dan sikap para siswa

4.    Siswa mendengarkan penjelasan guru, kemudian tanya jawab tentang materi.

5.    Guru bersama siswa menyiapkan media kartu merah putih.

6.    Guru mendemonstrasikan konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan menggunakan kartu merah putih.

7.    Siswa dibantu guru, mempraktikkan penggunaan media kartu merah putih untuk menyelasaikan soal latihan.

8.    Guru memberikan bimbingan individu kepada siswa yang belum memahami materi pembelajaran

9.    Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam bentuk isyarat atau hadiah pada peserta didik dengan kinerja baik

10.    Guru bersama-sama siswa membuat kesimpulan materi pelajaran

c.         Tahap Observasi

Observasi atau pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran, hal yang diamati adalah proses dan hasil pembelajaran, dalam oebservasi ini peneliti dibantu oleh kepala sekolah dan supervisor 2 yang mengamati aktfitas guru dan aktifitas siswa selama proses pembelajaran. tujuan observasi adalah untuk memperoleh gambaran, baik yang bersifat umum maupun khusus dengan bersamaan dengan aspek-aspek proses pendekatan yang, strategi, maupun metode serta model pembelajaran yang dilakukan.

d.      Tahap Refleksi

Berdasarkan hasil observasi dan diskusi yang dilakukan bersama dengan supervisor 2 pada siklus 2 ini ternyata ada beberapa temuan yang memang harus terpenuhi dalam pembelajaran, dengan demikian hasil belajar siswa yang merupakan tujuan pembelajaran telah tercapai, salah satunya adalah bahwa hasil belajar siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang sehingga tidak perlu dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus berikutnya. Selain itu dapat dismpulkan bahwa media / alat peraga kartu merah putih dapat meningkatkan hasil pamahaman siswa terhadap materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat di MI Sindanggalih, sehingga hasil belajar siswa pun meningkat.

C.    Teknik Analisis Data

Dalam mengumpulkan data-data yang dibutuhkan selama proses perbaikan pembelajaran, penulis menggunakan beberapa instrument, diantaranya :

1.    Lembar Observasi

Definisi observasi secara sederhana artinya adalah pengamatan, yakni pengamatan yang dilakukan untuk mengumpulkan data-data hasil perbaikan pembelajaran. Observasi dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan oleh supervisor 2 terhadap guru sebagai peneliti dan juga siswa sebagai subjek penelitian. Melalui observasi ini, observer memberikan nilai terhadap pembelajaran dengan menggunakan media kartu merah putih. Aspek yang di observasi di antaranya ialah :

a.    Observasi terhadap kinerja guru dalam merancang Rencana Perbaikan Pembelajaran.

b.    Observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran.

c.    Observasi terhadap aktifitas belajar siswa.

d.   Observasi terhadap pelaksanaan LKS dalam pembelajaran.

2. Lembar Evaluasi

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana hasil belajar yang diperoleh siswa pada mata pelajaran Matematika materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat setelah perbaikan pembelajaran dalam setiap siklus dilakukan. Melalui hasil evaluasi ini kita dapat melihat perkembangan hasil belajar siswa.

 

IV.   Hasil dan Pembahasan

A.  Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Perbaikan pelaksanaan pembelajaran ini dilakukan dalam 2 siklus. Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran, ternyata dapat diperoleh hasil belajar siswa yang diharapkan, adapun daftar nilai siswa pada setiap akhir proses pembelajaran, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.1

Hasil Pengolahan Data Nilai

Perbaikan Pembelajaran Matematika

 

No

Nama Siswa

KKM

Perolehan Nilai

Jumlah

Rata-rata

Pra Siklus

Siklus 1

Siklus 2

1

Addinul K.

70

50

70

80

200

66.6667

2

Munaevah

70

80

90

90

260

86.6667

3

Rizal

70

90

90

100

280

93.3333

4

Arif

70

50

60

70

180

60

5

Andri N.

70

50

60

60

170

56.6667

6

Salman F.

70

70

70

80

220

73.3333

7

Indrawan L.

70

50

60

80

190

63.3333

8

Gilang R.

70

70

70

80

220

73.3333

9

Susanti

70

50

60

70

180

60

10

Dena W.

70

50

60

80

190

63.3333

11

Sasi Nur A.

70

90

90

100

280

93.3333

Jumlah

 

700

780

890

2370

790

Rata-rata

 

63.6364

70.9091

80.9091

215.455

71.8182

Nilai Tertinggi

 

90

90

100

280

93.3333

Nilai Terendah

 

50

60

60

160

53.3333

 

Berdasarkan  tabel di atas, kita dapat mengetahui bahwa hasil belajar siswa dari siklus ke siklus semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari hasil evalusi belajar yang diperoleh siswa.

Berikut ini disajikan tabel analisis hasil evaluasi belajar siswa sebagai berikut:

 

Tabel 4.2

Hasil Analisis Nilai Evaluasi

Perbaikan Pembelajaran Matematika

No

Nilai

Siswa yang mendapat nilai setiap siklus

Prosentase (%) tiap siklus

Pra Siklus

Siklus 1

Siklus 2

Pra Siklus

Siklus 1

Siklus 2

1

100

0

0

2

0.00

0.00

18.18

2

90

2

3

1

18.18

27.27

9.09

3

80

1

0

5

9.09

0.00

45.45

4

70

2

3

2

18.18

27.27

18.18

5

60

0

5

1

0.00

45.45

9.09

6

50

6

0

0

54.55

0.00

0.00

7

40

0

0

0

0.00

0.00

0.00

Jumlah

11

11

11

100.00

100.00

100.00

Nilai ≥ KKM

5

6

10

45.45

54.55

90.91

Nilai < KKM

6

5

1

54.55

45.45

9.09

Keterangan : KKM = 70

Peningkatan hasil belajar siswa pada tabel diatas jika disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut :

Grafik 4.1

Hasil Pengolahan Data Nilai

Perbaikan Pembelajaran Matematika

 

 

 

 

 

 

 

 


Berdasarkan tabel dan grafik yang telah disajikan di atas, diperoleh hasil belajar siswa tentang operasi hitung penjumlahan dan pengurangan  bilangan bulat mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari hasil belajar siswa sebelum perbaikan, persentase hasil belajar siswa yang dapat mencapai KKM hanya 45,45 %, kemudian setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran di siklus 1 naik menjadi 54,55% dan pada siklus 2 naik kembali menjadi menjadi 90,91 %. Dengan demikian, tujuan perbaikan pembelajaran dapat tercapai.

Adapun kemampuan guru dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran menunjukkan adanya peningkatan dari siklus ke siklus. Peningkatan ini ditunjukkan dengan meningkatnya hasil penilaian kinerja guru (APKG-PKP1 dan APKG-PKP 2). Hasil penilaian kinerja guru dapat dilihat pada tabel.

Tabel 4.3

Hasil Penilaian Kemampuan Guru - PKP

Perbaikan Pembelajaran Matematika

Siklus

Nilai Praktik Perbaikan (NP)

Penilai 1 (NP1)

Penilai 2 (NP2)

Rata-rata (NP)

1

4,61

4,62

92,6

2

4,71

4,73

94,4

 

Berikut ini disajikan grafik peningkatan hasil penilaian kemampuan guru dalam merencanakan dan dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran.

Grafik 4.2

Hasil Penilaian Kemampuan Guru - PKP

 Praktik Perbaikan Pembelajaran MatematikaText Box: Nilai Rata-rata 
Praktik Perbaikan Pembelajaran

Berdasarkan tabel dan grafik penilaian kemampuan guru yang telah disajikan di atas, menunjukan adanya peningkatan kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan perbaikan pembelajaran. Tentunya hal ini akan dapat meningkatkan profesionalitas kinerja guru. Kemampuan guru dalam merencanakan perbaikan pembelajaran meningkat tiap siklusnya,                  begitu pula dengan  kemampuan guru dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Diperoleh rata-rata nilai praktik perbaikan pembelajaran 92,3 pada siklus 1 dan meningkat menjadi 94,4 pada siklus 2. (APKG-PKP 1 dan APKG-PKP-2 terlampir).

1.         Siklus 1

Pada perencanaan perbaikan pembelajaran siklus 1 disusun berdasarkan kekurangan yang terjadi pada awal sebelum dilakukan perbaikan pembelajaran yang hanya 45,45 % siswa yang nilai hasil belajar/evaluasinya mencapai KKM.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh supervisor 2, guru sudah berupaya untuk mengikuti rencana perbaikan yang telah disusun sebelumnya. Hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran sudah menunjukkan adanya peningkatan meskipun masih sedikit dan masih ada beberapa siswa yang tidak aktif dan kesulitan dalam proses pembelajaran.

Setelah dilakukan refleksi, baik terhadap proses perbaikan pembelajaran siklus 1 maupun terhadap kompetensi/ kemampuan diri guru sendiri, masih ditemukan beberapa kekurangan yang belum muncul dalam pembelajaran. Pada siklus 1 siswa kurang terlibat dalam penggunaan media pembelajaran, kurang diberi kesempatan untuk bertanya, tidak memberikan bimbingan secara khusus secara individu dan penggunaan media pembelajaran yang belum optimal sehingga pada akhir pembelajaran masih ada siswa masih belum memahami materi pembelajaran. Namun walaupun masih terdapat kekurangan, hasil perbaikan pembelajaran siklus 1 cukup meningkat dari pra siklus. Dari hasil belajar siswa yang mencapai KKM menunjukan peningkatan, yaitu dari 45,45 % pada pra siklus menjadi 54,55 % pada siklus 1.

2.         Siklus 2

Hasil perbaikan pada siklus 2 menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hasil belajar siswa/nilai yang diperoleh siswa terhadap materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat meningkat dengan digunakannya media kartu merah putih sebagai media pembelajaran.

Keberhasilan pada siklus 2 ini menunjukkan proses perbaikan pembelajaran yang sesuai dengan rencana yang mempertimbangkan kelemahan yang muncul pada siklus 1. Guru mengoptimalkan penggunaan media pembelajarannya, teknik pembelajarannya dan memberikan penguatan di akhir pembelajaran. Selain itu siswa juga sudah terlibat secara langsung dan aktif dalam penggunaan media, dan dibimbing sepanjang proses pembelajaran berlangsung. Kegiatan pembelajaran menyenangkan dan dapat memotivasi siswa.

Seluruh aspek pada lembar observasi telah terpenuhi, sehingga tujuan perbaikan pembelajaran pada siklus 2 ini telah tercapai.

B.     Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

1.      Pembahasan Pra Siklus

Dari pembelajaran awal/pra siklus diperoleh data bahwa tingkah laku siswa yang tidak mendukung terciptanya pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Siswa tidak serius dalam mengerjakan tugas dan diskusi, siswa masih menganggap bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dipahami, siswa memiliki kemampuan komunikasi dan memahami konsep matematika yang rendah dan hasil belajar / nilai hasil evaluasi siswa yang rendah.

Dari hasil pengamatan tersebut di atas terlihat persentase kompetensi guru dalam mengelola proses pembelajaran tampak kurang. Guru tidak menggunakan teknik yang bervariasi dan menyenangkan sehingga pembelajaran terasa membosankan. Selain itu guru tidak menggunakan media dalam menyampaikan pemahaman-pemahaman konsep matematika, serta kurangnya bimbingan guru terhadap siswa yang masih kesulitan belajar. Adapun permasalahan klasik yang terjadi yaitu guru kurang dapat mengatur waktu dengan efektif dan maksimal.

Pada pembelajaran pra siklus ini masih banyak siswa yang hasil evaluasi/ tesnya masih dibawah KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah dalam KTSP sehingga hasil yang diinginkan dalam pembelajaran belum tercapai. Dengan demikian sebagai tindak lanjut perlu dilakukan perbaikan pembelajaran.

2.      Pembahasan Siklus 1

Setelah merefleksi kegiatan pra siklus peneliti mencoba melakukan perbaikan pembelajaran dibantu oleh  supervisor 2. Kegiatan perbaikan pembelajaran tersebut dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan (observasi) dan merefleksi kembali dari kegiatan tersebut. Hasil yang diperoleh dari kegiatan perbaikan siklus ini berupa nilai siswa dan penilaian kemampuan guru yang terlampir dalam laporan penelitian ini.

Pada siklus 1 peneliti masih merasa kurang puas karena didapatkan dari 11 siswa hanya sebanyak 6 orang siswa (54,55 %) mendapat nilai mencapai/melebihi KKM, sedangkan sebanyak 5 orang siswa (45,45 %) belum mencapai KKM yang telah ditetapkan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya guru belum maksimal mengkondisikan kelas ke dalam suasana yang kondusif, guru kurang maksimal menggunakan media pembelajaran (media kartu merah putih) dalam pembelajaran, serta kurang memberikan bimbingan kepada siswa yang  masih belum mengerti/memahami materi pembelajaran.

Begitu pula dengan kompetensi guru baik pada penilaian kemampuan merencanakan perbaikan pembelajaran yang ditunjukan dalam Alat Penilaian Kemampuan Guru – PKP 1(APKG-PKP 1) maupun penilaian kemampuan melaksanakan perbaikan pembelajaran yang ditunjukan oleh Alat Penilaian Kemampuan Guru – PKP 2 (APKG-PKP 2). Kemampuan guru dalam praktik perbaikan pembelajaran pada siklus 1 diperoleh nilai yaitu 92,3.

Dengan demikian, disimpulkan bahwa perbaikan pembelajaran pada siklus 1 menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa dan kemampuan guru dalam merencanakan serta melaksanakan perbaikan pembelajaran sudah menunjukan nilai yang memadai. Namun, peningkatan yang terjadi belum signifikan, oleh karena itu masih dirasakan belum maksimal dan diputuskan melakukan perbaikan pembelajaran pada siklus 2.

3.      Pembahasan Siklus 2

Setelah merefleksi kegiatan siklus 1 penulis mencoba melakukan perbaikan pembelajaran dibantu oleh  supervisor 2. Kegiatan perbaikan pembelajaran tersebut dimulai perencanaan, pelaksanaan, pengamatan (observasi) dan merefleksi kembali dari kegiatan tersebut. Hasil yang diperoleh dari kegiatan perbaikan siklus ini berupa nilai siswa dan penilaian kemampuan guru yang terlampir dalam laporan penelitian ini.

Pada siklus 2 dari 11 siswa didapatkan 10 orang siswa (90,91%) mendapat nilai mencapai/melebihi KKM, sedangkan sebanyak 1 orang siswa (9,09%) belum mencapai KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah dalam KTSP. Adapun siswa yang nilainya belum mencapai KKM dikarenakan sudah maksimalnya kemampuan yang dimilikinya.

Begitu pula dengan kompetensi guru, kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan perbaikan pembelajaran meningkat dari nilai yang diperoleh, yaitu 92,3 pada siklus 1 menjadi 94,4 pada siklus 2.

Dengan data yang ada maka peneliti merasa puas karena perbaikan pembelajaran pada siklus 2 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa dan kemampuan/ kompetensi guru yang signifikan. Peningkatan hasil belajar siswa dan kemampuan guru tersebut menunjukan bahwa tujuan perbaikan telah tercapai sehingga diputuskan untuk tidak melakukan perbaikan pembelajaran berikutnya.

 

V.  Simpulan dan Saran Tindak Lanjut

A.  Simpulan

Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilakukan, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan diantaranya :

1.      Media kartu merah putih dapat digunakan dalam konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

2.      Media kartu merah putih dapat meningkatkan keaktifan dan kreatifitas siswa dalam pembelajaran.

3.      Media kartu merah putih sangat disenangi siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna.

4.      Penggunaan media kartu merah putih dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Hal ini dapat terlihat dari prestasi belajar siswa pada siklus 2 lebih hampir 90,91% telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan.

C.  Saran Tindak Lanjut

1.    Guru hendaknya lebih kreatif dalam memilih media/ alat peraga yang relevan dengan materi pembelajaran.

2.    Untuk kemajuan dalam suatu sekolah hendaknya sekolah dapat memfasilitasi guru untuk melakukan sebuah penelitian dalam rangka meningkatkan peningkatan kinerja guru.

3.    Media kartu merah putih dapat dijadikan salah satu alat peraga/ media pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

4.    Harus ada kerja sama yang baik antara dewan guru dan kepala sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

 

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi, dkk. (2009). Penelitian Tindakan Kelas . Jakarta : Bumi Aksara.

 

Karso, dkk (2009). Pendidikan Matematika 1. Jakarta : Universitas Terbuka.

Marisa, dkk, 2011. Komputer dan Media Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka.

 

Muhsetyo, Gatot, dkk. (2010). Pembelajaran Matematika SD. Jakarta : Universitas Terbuka.

 

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP)

 

Wardani, I.G.A.K Wardani, dkk, 2013. Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta : Universitas Terbuka.

 

Winataputra, Udin S. dkk, 2011. Pembaruan dalam Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

 

 

Komentar